Senin, 24 Oktober 2016
Senin, 07 Maret 2016
saat aku mencintainya lebih dr Tuhan (copas warungsatekamu)
Peristiwa ini aku alami saat masih kuliah. Pada masa-masa itu, aku selalu mengikuti kata hatiku sendiri.
Ben (bukan nama sebenarnya) dan aku sudah berteman baik selama 3 tahun. Pada tahun terakhir kuliah, hubungan persahabatan kami mulai tidak biasa. Kami lebih dari teman biasa, tetapi tidak sampai resmi berpacaran. Kami jelas saling menyukai, namun aku tahu bahwa menjalin hubungan khusus dengannya bukanlah sesuatu yang mudah karena ia suka main mata dengan perempuan.
Meski sudah sangat jelas ia orang yang seperti apa, aku memberanikan diri bertanya apakah ia akan membawa hubungan kami ke tahap selanjutnya. Jawaban singkatnya adalah: “tidak”. Ia merasa sudah puas dengan hubungan kami yang sekarang dan ia belum ingin terikat dengan siapa pun pada saat itu. Aku sebenarnya senang bisa dekat dengannya lebih dari sekadar teman biasa, sekalipun aku juga tidak yakin mau meneruskan hubungan kami yang serba tidak jelas. Namun, setiap kali aku mendoakannya, aku merasa tidak tenang, aku takut Tuhan akan menjauhkannya dari hidupku karena ia bukanlah seorang Kristen.
Sebagai orang yang baru saja menerima Kristus pada tahun kedua di kampus, aku sendiri punya banyak pertanyaan tentang Tuhan, tentang kekristenan, dan tentang cinta. Aku bertanya-tanya, “Mengapa orang Kristen tidak boleh berpacaran dengan orang non-Kristen? Bukankah Ben juga perlu diselamatkan? Bagaimana bila aku dapat meyakinkannya untuk menjadi seorang Kristen?”
Pada saat itu, aku merasa bahwa pembimbingku tidak mengerti dan tidak memberiku dukungan sama sekali. Setiap kali aku mengajukan pertanyaan-pertanyaan itu, ia akan memberi jawaban yang sama, “Terlalu berisiko berpacaran dengan orang yang tidak seiman. Kalian berdua memiliki keyakinan yang berbeda. Apakah kamu mau nekad menjalin hubungan dengannya?” Lama-kelamaan aku memutuskan untuk tidak lagi berkonsultasi dengannya. Aku yakin bahwa aku tahu apa yang terbaik untuk diriku dan aku bisa menangani masalahku sendiri.
Jadi, hubunganku yang tidak jelas bersama Ben terus berlanjut—sementara hubunganku dengan Tuhan memburuk. Yang aku pikirkan setiap hari adalah apa yang dapat kulakukan bersama Ben atau ke mana aku bisa jalan-jalan dengannya. Aku berhenti berdoa dan tidak lagi menceritakan apa-apa tentang Ben kepada teman-teman Kristen-ku. Kalau sebelumnya perbedaan iman kami membuatku ragu melanjutkan hubungan dengannya, kini aku jarang sekali memikirkan bagaimana aku bisa membawanya untuk mengenal Tuhan. Aku hanya bisa melihat segala yang baik dari dirinya. Aku benar-benar buta terhadap kesalahan-kesalahannya.
Ternyata, masa-masa bahagiaku tidak berlangsung lama. Seiring berjalannya waktu, aku mulai melihat masalah-masalah yang ada dengan jelas. Tuhan mengeluarkan selumbar yang menghalangi pandanganku. Aku menemukan bahwa aku bukan satu-satunya gadis yang diperhatikan Ben. Awalnya aku pikir ia akan berubah. Lambat laun aku menyadari bahwa situasinya kian memburuk. Aku tidak bisa tahan lagi—dan akhirnya aku mulai berdoa. Doa seharusnya menjadi hal pertama yang aku lakukan, namun selama ini aku menghindarinya. Namun setelah aku mulai berdoa, segala sesuatu menjadi terang benderang. Betapa bodohnya aku yang berpikir aku bisa menangani semua masalahku sendiri!
Ben ternyata mengatakan hal-hal yang buruk tentang diriku kepada gadis lain. Ia mengarang-ngarang cerita untuk membuat gadis itu merasa kasihan dan peduli kepadanya. Ia mengaku bahwa ia harus menjaga hubungan baik denganku karena aku sedang “mengandung” dan ia ingin menjadi orang yang “bertanggung jawab”. Aku merasa sangat sakit hati dengan kebohongan itu, kami tidak pernah sampai berhubungan intim. Ia berbohong karena ia tidak mau kehilangan aku maupun gadis itu.
Aku merasa sangat terpukul dengan perbuatan Ben, namun pada saat yang sama aku menyadari bahwa kejadian itu menolongku melihat siapa Ben sebenarnya. Awalnya, aku sangat marah karena ia telah mencemarkan nama baikku dan aku ingin membalas perbuatannya. Aku berkata pada diriku sendiri bahwa aku tidak akan pernah memaafkannya seumur hidupku.
Pada saat itulah Tuhan membawaku, putrinya yang hilang, kembali kepada-Nya. Ketika aku mencurahkan isi hatiku kepada Tuhan dan menyerahkan hidupku kepada-Nya, Dia memulihkanku dengan anugerah-Nya. Dia menunjukkan kepadaku bahwa aku tidak perlu larut dalam kemarahan dan tidak perlu mempertahankan hubungan itu.
Hubunganku dengan Ben pun berakhir. Aku bersyukur kepada Tuhan untuk semua hal yang telah kulewati. Melalui pengalaman yang menyakitkan itu aku belajar bahwa jalan-jalan Tuhan jauh melampaui jalan-jalanku, dan bahwa kasih-Nya tidak pernah berkesudahan. Sekalipun aku telah tidak taat dan keras kepala, Tuhan tetap menunjukkan kasih dan kesabaran-Nya kepadaku.
Mengingat kembali masa-masa itu, aku menyadari betapa aku dulu telah mengutamakan Ben lebih dari hubunganku dengan Tuhan. Jelas hubunganku itu sudah bermasalah sejak awal. Aku sadar, aku tidak menaati Tuhan saat bersikeras berpacaran dengan orang yang tidak seiman. Aku juga menyadari bahayanya mengutamakan pasangan kita lebih dari Tuhan, sesuatu yang cenderung dilakukan banyak orang, termasuk dengan pasangan yang seiman.
Apakah kita memiliki hubungan yang dekat dengan Tuhan? Apakah kita mengasihi Tuhan lebih dari pacar kita? Apakah kita cukup rendah hati untuk memohon pimpinan Tuhan?
Ketika kita mengandalkan pikiran kita sendiri atau mencoba untuk lari dari Tuhan, ada konsekuensi yang harus kita tanggung. Namun syukur kepada Tuhan yang berjanji tidak akan pernah meninggalkan anak-anak-Nya. Ketika kita datang kepada-Nya dan bertobat dari pilihan-pilihan kita yang salah, Dia akan menyertai dan membimbing kita kembali.
Jika kamu pernah mengalami apa yang aku alami, aku ingin mendorongmu untuk menyerahkan semua pergumulanmu di hadapan Tuhan dan tunduk sepenuhnya pada pimpinan-Nya. Tuhan memiliki rencana yang baik bagi setiap anak-anak-Nya, kita dapat mempercayakan hidup kita kepada-Nya
Minggu, 06 Maret 2016
Mengapa hubungan ini hrs berakhir? (copas www.warungsatekamu.org)
Sejak awal berpacaran, aku dan pacarku sudah memikirkan untuk membawa hubungan kami hingga jenjang pernikahan. Tidak pernah sekalipun terlintas di pikiranku bahwa hubungan kami pada suatu hari akan bisa berakhir. Tentu saja kami pernah berselisih pendapat, namun kami selalu bisa bicara baik-baik dan menyelesaikan setiap masalah kami bersama-sama.
Sebagai bagian dari persiapan kami untuk menikah, kami juga melatih diri kami dalam sejumlah disiplin rohani, seperti menghadiri persekutuan, berdoa, dan merenungkan firman Tuhan bersama. Namun, segalanya berubah saat aku menjalani studi di luar negeri.
Pacarku memang sudah menyatakan keberatan dengan keputusanku pergi ke luar negeri, namun aku tidak berpikir bahwa kepergianku itu adalah masalah yang serius. Hubungan kami sangat stabil dan sekalipun kami berada di dua negara yang berbeda, kami dapat berkomunikasi dengan mudah dengan teknologi yang ada saat ini. Lagipula masa studiku hanya satu tahun. Aku pikir hubungan kami akan baik-baik saja.
Namun, tak lama setelah aku pergi, hubungan kami yang sudah berjalan lebih dari dua tahun itu mulai retak. Ia mulai jarang menelepon dan mengirim SMS. Kalau pun ada, bicaranya singkat dan seperlunya saja. Pacarku tampaknya tidak tahan dengan hubungan jarak jauh. Aku mulai merasa cemas dan curiga bahwa ia menyukai orang lain di gereja. Kecurigaanku membuat hubungan kami memburuk, dan pada akhirnya kami memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami.
Sendirian di negeri orang, aku merasa sangat terpukul dengan kejadian yang tidak terduga itu. Aku ingat pacarku pernah berkata, “Cinta itu adalah sebuah pilihan, bukan sebuah perasaan”—dan pernyataan itu membuat pikiranku dipenuhi banyak pertanyaan. “Bukankah kami sudah membuat pilihan untuk saling mencintai? Tidakkah kami hanya perlu bergantung kepada Tuhan dan semua masalah kami akan terselesaikan? Mengapa hubungan kami sampai harus berakhir?”
Namun peristiwa yang menyakitkan itu kemudian menyadarkanku bahwa kekaguman dan rasa cintaku kepada pacarku sesungguhnya telah melebihi kekaguman dan rasa cintaku kepada Tuhan. Harus kuakui bahwa selama berpacaran, kami pernah melakukan hal-hal yang tidak kudus. Kami tidak taat sepenuhnya pada kehendak Tuhan dan hampir tidak pernah berusaha mengubah atau memperbaiki perilaku kami. Rasa takut kehilangan membuat kami tidak bisa melihat betapa kami telah menjadi terlalu bergantung satu sama lain. Tanpa sadar aku menjadi berhala bagi pacarku, demikian pula sebaliknya.
Aku ingat akan sesuatu yang pernah menyentak pikiranku: tulisan Pendeta Zhu Hui Ci dalam sebuah buku yang berjudul Dear God, Where Is The Love You Promised Me? Tulisannya kurang lebih berkata, “Pernikahan diciptakan oleh Tuhan, pacaran diciptakan oleh manusia”. Tuhan dengan jelas menyatakan pernikahan seperti apa yang sesuai dengan kehendak dan rancangan-Nya, namun Dia tidak menentukan siapa yang harus kita nikahi. Dia memberi kita kehendak bebas dan kemampuan untuk memilih. Pacaran memberi kita kesempatan untuk belajar mencintai satu sama lain dan bersama-sama bertumbuh dalam keserupaan dengan Kristus. Sebab itu, bila dalam berpacaran muncul masalah-masalah mendasar yang tidak ada jalan keluarnya, kita bisa memilih untuk memutuskan hubungan tersebut. Tentu saja kebebasan ini tidak untuk digunakan seenaknya.
Berikut ini contoh kasus yang bisa kita pikirkan: Jika pacar kita seorang yang gila kerja sampai pada batas yang tidak bisa kita tolerir, akan sangat konyol kita kita berharap ia akan berubah setelah menikah. Memang, pacar kita bisa saja berubah suatu hari nanti. Tetapi, berharap ia akan berubah saja tidak menutup kemungkinan munculnya masalah dalam hubungan kita di kemudian hari. Memang, kita bisa meminta nasihat orang lain dan berusaha menyelesaikan masalah yang muncul itu bersama-sama. Tetapi, hal ini pun tidak menjamin masalah kita pasti terselesaikan. Jika kita melihat masalah tersebut akan membahayakan hubungan kita di masa depan, hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah mengakhiri hubungan itu sebelum menikah. Dengan demikian, masing-masing pihak dapat berfokus menyelesaikan dulu masalah yang ada dalam dirinya.
Keberhasilan menurut kacamata dunia adalah meraih atau mendapatkan sesuatu, sedangkan kegagalan adalah kehilangan sesuatu itu. Namun, menurut kacamata Alkitab, ukuran keberhasilan adalah kasih. Kita gagal ketika kita tidak mengasihi. Dalam bukunya, Pendeta Zhu juga menulis: “Dalam kekristenan, kasih harus menjadi dasar dari segala sesuatu yang kita lakukan, termasuk saat kita memutuskan akan tetap melanjutkan atau mengakhiri hubungan dengan pacar kita.”
Melalui hubunganku dengan pacarku, aku sendiri telah mengalami apa artinya mencintai seseorang dengan sangat. Aku yakin pacarku juga mengalami hal yang sama. Namun, cinta jugalah yang membuatku akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hubungan kami, dan menerima hal itu sebagai jalan keluar terbaik bagi kami berdua—sekalipun sebenarnya hal itu bukan sesuatu yang aku kehendaki.
Dalam doa-doaku, aku memohon agar Tuhan menolong kami berdua untuk mau selalu tunduk kepada pimpinan Roh Kudus, dan menjalani hidup kami masing-masing seturut dengan kehendak-Nya, selalu mengasihi Tuhan di atas segalanya
Minggu, 04 Oktober 2015
Hikmat hari ini
Ini sbenarnya tulisanku kmarin...tp tetep kutulis hikmat hr ini.hbs klo hikmat kmarin,gmn gtu..
:-p
hikmat yg kudapat..
td persek musa temanya
parenting..kekerasan pd anak..
kekerasan ada
bbrp:fisik,psikis,seksual,pengabaian
+spiritual..
jadi intinya jgn pernah melukai
anak..
baik fisik,emosi,dll..
kalau tujuanmu cm pgn nikah aja
trus happy ending..mending km ga
usah nikah...ke pulau aja trus
menyendiri..heheh..
maksudnya menikah n pny anak
itu nggak cukup..hrs belajar cara
mendidik anak sejak dini...
mendidik anak itu ga
sembarangan..
krn itu hati2 dlm berkata n
bertindak..
jika salah didik bs merusak
kepribadian anak..
Amsal 22:6 tu ayat yg bagus..
Jadi sejak dini...ajarkan anak2 ttg
iman,citra diri,disiplin n tanggung
jawab...
Ajarkan sejak kecil n itu akan
diingat anak saat2 dewasa+dia
kesulitan..terutama golden age..
Jangan sampai mengancam n
bawa2 nama Tuhan..
misalnya:jika km ga belajar,Tuhan marah lo..
itu membawa anak jadi keras n ga mau kenal sm Tuhan..
hrs ksh pengajaran yg
benar..Tuhan itu adil tapi juga
kasih..Walau salah,tp Tuhan Yesus tetep menerimamu kalau km bertobat..
Selain itu hikmat dr buku n
pengalaman org2 tertulis d bwh
ini:jgn sampai salah
pilih..bayangkan km dah mendidik
anak baik2 ..trus pasanganmu
mendidiknya ke arah yg ga
baik...hm..hancurlah smua kerja
kerasmu selama ini..krn nila
setitik,rusak susu sebelanga.
Saat memilih pasangan, pikirkan
matang2 apa km bener2 mau jadi
anak atau cucunya dia..kalau km
ga mau,ya ga usah berjalan ke
arah tsb...jadi jgn buru2 ambil
kputusan married...kenali
kepribadian pasanganmu yg
sesungguhnya..bukan cm pas jaim
d dpanmu aja...
Pemilihan keluarga n tmen yg
salah,bs berdampak merusak
hubunganmu dgn Tuhan...
Itulah hikmat hr ini..
:-)
