Popularitas: Antara Tanggung Jawab dan Privelese
Dono Baswardono Parenting
Serupa dengan kekuasaan, popularitas itu melahirkan konsekuensi berupa tanggung jawab. Sayangnya, kebanyakan media maupun orangtua lebih fokus pada "berkat-berkat" materialistik dan superfisial dari popularitas, seperti dipuja-puji banyak orang, sampai hak-hak istimewa lainnya.
Tidak sedikit orang yang menggunakan popularitas atau kekuasaannya untuk merampok hak-hak yang semestinya tidak didapatkannya serta untuk tidak memenuhi kewajibannya. Seorang kawan yang tadinya serba disiplin, mendadak seenaknya sendiri ketika menjadi dirjen. Bila sebelumnya ia antre saat makan siang, kini ia minta didahulukan. Bila tadinya ia membayar makanannya di restoran, kini ia sering ngeloyor begitu saja usai makan. Bahkan saat makan siang tadi kami menonton berita tentang sosok populer dalam bidang agama yang melakukan penistaan seksual dan penipuan finansial.
Belasan tahun lalu, saya mengenal seorang bintang film yang berasal dari dunia teater. Setiap hari ia berlatih di halaman rumahnya. Latihan pernafasan, latihan vokal, bahkan disiplin dalam diet dan tidak merokok. Ia juga merawat penampilannya meski jarang ke salon. Ia menyadari betul tanggung jawab yang diembannya. "Semakin terkenal, semakin besar tanggung jawabku," tegasnya saat kutanya mengapa ia mau bersusah payah sementara artis lainnya cukup berhaha-hihi saja.
Malah, kenalan yang lain, seorang dramawan populer yang sekaligus penyair dan budayawan, menambahkan bahwa "bukan hanya beban moral yang sangat berat yang mesti ditanggung tokoh populer, tetapi juga beban psikologis. Seorang yang populer mestilah memiliki kepribadian yang kokoh. Bila tidak, ia bisa depresi karena mendapat pujian bahkan pemujaan dari siapa pun. Popularitas bisa dengan cepat menggerogoti keutuhan pribadi dan integritas seseorang."
Jadi, sebelum menyetujui dan mendorong anak Anda untuk ikut lomba ini dan itu yang bisa membuatnya populer, tempalah karakternya.
Sabtu, 06 Mei 2017
Popularitas: Antara Tanggung Jawab dan Privelese
Senin, 24 Oktober 2016
Jumat, 21 Oktober 2016
Permintaan Anak Yang Tak Pernah Terucap.
http://www.psikoma.com/13-permintaan-anak-yang-tak-pernah-terucap/3/
Permintaan Anak Yang Tak Pernah Terucap. Ia mungkin tak bisa mengungkapkan dengan terus terang. Ia pun tak bisa dengan mudahnya jujur terus terang tentang keluh kesah yang selama ini ia rasa. Ia mungkin laksana malaikat kecil yang dirindukan, namun sekaligus menjadi malaikat kecil tak berdaya di tengah ego yang terkadang muncul dari peranan orang di sekitarnya.
Mungkin ia lelah dengan semua ini, hingga terkadang menampakkan sisi keegoisan, kenakalan, ketidaksukaan, ketakutan, hingga kekurang ajaran dalam bersikap.
Ya sosok malaikat kecil tersebut adalah anak. begitu lucunya mereka, namun bagi anda yang tak mampu memahaminya, mereka akan menampakkan sisi permusuhan pada diri anda. Oleh sebab itu penting kiranya untuk memahami apa yang menjadi harapan dan permintaan mereka.
Bukan maksud untuk memanjakan, namun realitanya adalah, anda tak akan mendapatkan kasih sayang dan pengharapan mereka, jika anda sendiri egois untuk tak mau mendengar keluh kesah dan harapan mereka.
Berikut ini adalah 13 Permintaan Anak yang tak pernah terucap, namun selalu merka harap dengan penuh cemas.
Permintaan Anak Yang Tak Pernah Terucap
1. Jangan Marahi Aku Di Depan Orang Banyak
Permintaan Anak Yang Tak Pernah Terucap yang pertama yaitu adalah jangan memarahinya di depan orang banyak. Tak ada satu orang pun yang menginginkan untuk di permalukan di depan orang banyak. Bahkan orang dewasa sekalipun yang telah memiliki nalar dan fungsi konstruk berpikir yang telah lengkap sempurna berkembang pun, dapat tersinggung hingga menampakkan reaksi perlawanan pada anda, apalagi anak kecil.
Ketahuilah bahwa, seorang anak membutuhkan sebuah bimbingan yang baik, bukan aksi marah anda yang anda umbar saat ia di depan umum. Terlebih lagi pada saat mereka sedang asik bermain bersama teman-teman.
Memarahi di depan teman-temannya hanya akan membuat mereka merasa malu, dan berpotensi di bully teman-temannya di kemudian hari. Tentu anda telah mengetahui dampak bullying terhadap pertumbuhan seorang anak bukan?
2. Biarlah Ia mencoba, Beritau Ia Dengan Lembut Jika Ia Melakukan Kesalahan
Mungkin ia belum mampu melakukan segalanya, namun tak sepatutnya dengan ketidak mampuan mereka, menjadikan anda berhak untuk mengekang segala bentuk aktivitas dan kreativitas mereka dengan alasan legalitas bahwa anda orang tua mereka.
Ketahuilah bahwa, sebagai orang tua ada baiknya melakukan pengarahan, pendidikan, dan fungsi nasehat yang baik dan lembut, bukan dengan pengekangan, pelarangan, dan menghardik jika mereka melakukan kesalahan akibat tidak mendengarkan anda.
3. Aku Ingin Jadi Diri Sendiri, Maka Hargailah Aku
Penghargaan yang baik pada anak, akan membuat anak tumbuh kembang menjadi pribadi yang percaya diri. Hinaan dan membandingkan ketidak berdayaan anak dengan kemampuan dari orang lain, hanya akan menjadikan anak menjadi pribadi yang cenderung minder, ataupun jika ia menjadi lebih baik, bisa jadi hal itu bukan karena tulus dari dalam hatinya, namun hal tersebut tak sedikit dikarenakan adanya faktor perlawanan pada diri anda sebagai orang tuanya.
Jika telah muncul bibit-bibit perlawanan dalam diri anda, yakinkah anda ia akan mencurahkan segala keluh kesah pada diri anda? Entahlah hanya waktu yang akan menjawab semuanya.
4. Cobalah Mengerti Aku dan Cara Belajarku
Setiap anak di lahirkan untuk menjadi special dan berkemampuan. Tak cukup hanya dengan standard kepintaran yang mainstream dimana anak harus mengikuti pakem pembelajaran monoton agar berhasil mencapai standard nilai idaman di atas secarik kertas.
Tak sedikit pula gaya pendidikan yang di lakukan oleh orang tuanya di rumah, dan guru di sekolah, membuat anak terpenjara pada ketidaknyamanan pada sebuah tuntutan untuk menjadi mampu dan pintar dengan gaya pembelajaran klasik.
Padahal menurut hukum kecerdasan seorang manusia seperti yang telah di paparkan oleh tokoh psikologi bernama Gardner, manusia memiliki 8 tipe kecerdasan yaitu musical, visual-spasial, verbal-lingustic, Logical mathematical, kinesthetic, Interpersonal, Intrapersonal, dan naturalistic. Oleh sebab itu ada baiknya bagi para orang tua ataupun guru memahami bagaimana cara belajar dari anak.
5. Jangan Bandingkan Aku Dengan Kakak Atau Adik Atau Orang Lain
Membadingkan hanya akan menimbulkan permasalahan dikemudian hari, bukan menjadikan anak nurut mengikuti harapan anda. Dengan membandingkan dengan orang lain, justru membuat anak semakin menjauh daripada harapan yang anda inginkan.
6. Ayah Ibu Jangan Lupa Aku Adalah Representasi Dirimu
Memperlakukan anak membutuhkan kesabaran, dan waktu yang lebih agar ia dapat menyelearaskan dengan keinginan dan harapan anda. Terkadang mungkin anak membuat anda gusar karena perilakunya yang membentak saat bereaksi atas ketidaknyamanannya.
Fatalnya terkadang tak sedikit orang tua yang menyikapi bentakan dari anak, dengan cara membentak balik, bahkan di bumbui kekerasan. Sekirnya hal ini, mari kembali merenungi penyebab anak melakukan hal yang demikian, bukan berfokus pada apa yang terjadi dan dilakukan sang anak. Ingat bahwa anak adalah representasi dari apa yang telah anda lakukan dan ajarkan pada mereka.
7. Kian Hari Umurku Kian Bertambah Jangan Anggap Aku Anak Kecil
Selalu saja dari hari ke hari, ia di anggap anak kecil. Hardikan dan bentakan saat ia mencoba untuk melakukan sesuatu yang menurut anda ia belum mampu, selalu di terimanya. Sesekali waktu saat ia mencoba untuk menjelaskan apa yang di rasakannya pun, tak jarang engkau bentak dengan “jangan banyak bicara, kamu ini masih kecil!!”
Betapa hatinya srentak langsung membatu, terluka, dan bahkan berpotensi menyimpan dendam. Yah, dendam yang dialamatkan pada diri anda yang membentak, orang tua kandung yang seharusnya memberikan limpahan kasih sayang.
8. Jangan Membuatku Bingung, Maka Tegaslah Padaku
“Dahulu boleh, sekarang tidak boleh. Atau dahulu sewaktu aku merengek aku di bolehkan, padahal aku tau bahwa engkau memang tidak menginginkan”. Sekelumit ucapan tersebut terkadang hadir di benak sang anak. Untuk itu penting sebagai orang tua untuk mengubah gaya yang abu-abu menjadi gaya pengasuhan hitam putih. karena hanya dengan ketegasan mereka dapat mengerti antara benar dan salah. Namun terapkanlah ketegasan yang tidak melukai hati, kalaupun harus melukai hati, goreslah hatinya dengan seminimal mungkin sakit yang dirasakannya.
9. Jangan Ungkit-Ungkit Kesalahanku
Tidak ada seorang pun yang ingin di ungkit kesalahannya. Mengungkit kesalahannya, hanya akan menimbulkan kembali luka lama, yang sebenarnya hendak mereda. Dengan mengungkit kesalahan, menjadikannya mencontoh anda dalam melakukan hal yang serupa pada orang lain kelak.
10. Jangan Memarahiku Dengan Hal-hal buruk
Ucapan semakna dengan harapan dan doa. Ketika ucapan itu terus menerus di ucapkan dan didengan, maka ucapan tersebut menjadi sebuah informasi yang bersifat menetap dalam pikiran. Jika pikiran telah terbentuk maka, perkataan tadi menjadi sebuah spirit untuk mewujudkan ke dalam realita.
Oleh sebab itu segala bentuk perkataan dan ucapan baik ataupun buruk, jika di ucapkan berulangkali akan memiliki dampak dalam diri seseorang.
11. Aku Adalah Lapangan Pahala Bagimu
Taukah anda Ayah/bunda bahwa saat anda sabar dalam menghadapi ku, maka saat itu jugalah pahala hadir di hadapanmu. Oleh sebab itu maka, perlakukanlah aku dengan rasa kasih sayang, bukan dengan hardikan kasar nan mencela, terlebih di hadapan orang-orang.
12. Jangan Melarangku Hanya Dengan Kata Jangan
Setiap ayah/bunda melarang anak untuk bermain, beraktivitas, maupun berkreativitas sesuai kehendaknya, maka cobalah untuk memberiku rasionalisasi mengapa aku tidak boleh melakukannya. Karena jika larangan tak disertai dengan rasionalisasi, hanya akan memperlihatkan sisi penghukuman atas kreaativitas yang telah di lakukan oleh anak. Akibatnya anak akan menjadi tidak kreatif karena dalam bayangannya ia merupakan anak yang salah jika berkreativitas.
13. Cintailah Aku Sepenuh Hatimu
Mungkin tak banyak anak yang dengan leluasa dan gampangnya mengungkapkan rasa cinta pada diri anda. Namun taukah anda, bahwa anak ingin sekali mendapatkan cinta dan kasih sayang yang tulus dari anda.
Banyak dari anak yang tak mendapatkan kasih sayang secara tulus, yang pada akhirnya membuat anak justru mencari perhatian dengan cara yang salah. Atau bisa jadi sang anak mencari kasih sayang lain di luar orang tuanya, yang mana jika lingkungan yang menerima kasih sayangnya salah, justru akan membuat anak mendapatkan permasalahan baru. By: Muhamad Fadhol Tamimy
Minggu, 04 Oktober 2015
Hikmat hari ini
Ini sbenarnya tulisanku kmarin...tp tetep kutulis hikmat hr ini.hbs klo hikmat kmarin,gmn gtu..
:-p
hikmat yg kudapat..
td persek musa temanya
parenting..kekerasan pd anak..
kekerasan ada
bbrp:fisik,psikis,seksual,pengabaian
+spiritual..
jadi intinya jgn pernah melukai
anak..
baik fisik,emosi,dll..
kalau tujuanmu cm pgn nikah aja
trus happy ending..mending km ga
usah nikah...ke pulau aja trus
menyendiri..heheh..
maksudnya menikah n pny anak
itu nggak cukup..hrs belajar cara
mendidik anak sejak dini...
mendidik anak itu ga
sembarangan..
krn itu hati2 dlm berkata n
bertindak..
jika salah didik bs merusak
kepribadian anak..
Amsal 22:6 tu ayat yg bagus..
Jadi sejak dini...ajarkan anak2 ttg
iman,citra diri,disiplin n tanggung
jawab...
Ajarkan sejak kecil n itu akan
diingat anak saat2 dewasa+dia
kesulitan..terutama golden age..
Jangan sampai mengancam n
bawa2 nama Tuhan..
misalnya:jika km ga belajar,Tuhan marah lo..
itu membawa anak jadi keras n ga mau kenal sm Tuhan..
hrs ksh pengajaran yg
benar..Tuhan itu adil tapi juga
kasih..Walau salah,tp Tuhan Yesus tetep menerimamu kalau km bertobat..
Selain itu hikmat dr buku n
pengalaman org2 tertulis d bwh
ini:jgn sampai salah
pilih..bayangkan km dah mendidik
anak baik2 ..trus pasanganmu
mendidiknya ke arah yg ga
baik...hm..hancurlah smua kerja
kerasmu selama ini..krn nila
setitik,rusak susu sebelanga.
Saat memilih pasangan, pikirkan
matang2 apa km bener2 mau jadi
anak atau cucunya dia..kalau km
ga mau,ya ga usah berjalan ke
arah tsb...jadi jgn buru2 ambil
kputusan married...kenali
kepribadian pasanganmu yg
sesungguhnya..bukan cm pas jaim
d dpanmu aja...
Pemilihan keluarga n tmen yg
salah,bs berdampak merusak
hubunganmu dgn Tuhan...
Itulah hikmat hr ini..
:-)